Sejarah PSHT

Persaudaraan Setia Hati Terate atau SH Terate merupakan sebuah gerakan ikatan yang berupa persaudaran “perguruan” silat yang memiliki tujuan untuk mendidik dan melahirkan manusia yang berbudi luhur, serta dapat membedakan mana yang benar dan salah, bertakwa kepada Tuhan dan mampu memegang teguh komitmen untuk mengutamakan persaudaraan antar warga.

SH Terate juga termasuk dalam 1 dari 10 perguruan silat yang ikut mendirikan IPSI atau Ikatan Pencak Silat Indonesia pada kongres pencak silat tanggal 29 Mei tahun 1948 di Surakarta. Cabang dari ikatan SH Terate tersebar hingga 200 kabupaten di Indonesia dan bahkan ada beberapa di luar negeri. 

Sejarah PSHT

Pada tahun 1903 di sebuah daerah Kampoeng Tambak Grinsing di Surabaya. Ki Ageng Soero Dwiryo adalah awal mula terciptanya pencak silat setia hati. Sebelum namanya dikenal dengan Setia Hati (SH), pelatihan perguruan tersebut dikenal dengan “Djojo Gendilo Tjipto Muljo” dan untuk bagian yang mengajar kerohanian disebut “Sedulur Tinggal Ketjer” atau STK.

sejarah psht
Ilustrasi sejarah psht

Para Warga Tingkat II pada latihan tingkat putih SH Terate cabnag Surabaya di IAIN Sunan Ampel Surabaya 94 – 94 antara lain:

  • Mas Ir. FX. Sentto Sutikno
  • Mas Dr. Ir. H. Aliadi, MM
  • Mas Panggul

Pada tahun 1917, Ki Ageng ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan perguruan Silat bernama Perguruan Setia Hati (PSH) di desa Winongo, Madiun. Pada waktu itu, PSH belum menjadi Organisasi, SH adalah persaudaraan antar siswanya saja. Ki Ageng Hadji Soerodiwirjo meninggal pada 10 November 1944 di Madiun.

1. Penolakan Belanda

Pada masa itu juga gerakan semacam ini dilarang oleh kolonialisme Belanda. Setia Hati memiliki pengertian “Setia pada Hati (diri) sendiri”. Di Indonesia pada kuartal akhir abad ke-19, ia dijuluki sebagai “Ngabei”, sebuah gelar bangsawan yang hanya diberikan oleh seorang Sultan dan hanya kepada mereka yang memang dirasa layak secara rohani.

Ia tinggal dan bekerja di wilayah yang beragam di pulau Jawa hingga Sumatera dan belajar berbagai jenis pencak silat dari beragam aliran. Di Sumatera ia belajar tentang kerohanian atau kebatinan kepada seorang guru spiritual. Dikombinasikan dengan ajaran pencak silatnya yang paling baik dan kemudian dijadikan gerakan dasar SH.

Pada tahun 1922 Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang telah mendapat gelar resmi pahlawan perintis kemerdekaan 1883 hingga 1952 secara cerdik mendaptatkan izin untuk mendirikan latihan SH kepada mereka yang ingin mendalaminya, meskipun dengan menggunakan nama yang berbeda yaitu Pemuda Sport Club disingkat SH PSC

2. Organisasi PSHT

Kemudian nama ini berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Pemuda Sport Club yang berupa Organisasi. Seiring waktu, organisasi ini berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada tahun 1948 dalam kongres pertama di Madiun. Setelah masa Perang Dunia II, Organisasi ini tetap berkibar dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.

Salah seorang tokoh yang terkenal dalam pemekaran kepopuleran PSHT bernama Mas Irsjad yang merupakan siswa pertama dari Ki Hadjar. Mas Irsjad juga merumuskan 90 gerakan Senam Dasar, Jurus Belati, Jurus Toya (menggunakan kayu) yang membuat perguruan SH ini berbeda dibanding yang lain.

Salah satu murid beliau yang terkenal adalah Mas Imam Koesoepangat (1939 – 1987) yang merupakan pemimpin spiritual dari PSHT yang ikut berjasa dalam perkembangan organisasi. Penggantinya yaitu Mas Tarmadji Boedi Harsono, saat itu merupakan dewan pusat organisasi PSHT yang dikepalai oleh Kolonel Inf(Purn.) Mas Richard Simorangkir.

Artikel ini, disunting dari http://duniasejarah.com/ dalam artikelnya yang bertemakan sejarah psht